blogkombecks
Sedang memuat...

Dengan "Lima" Pemain Asing Arema Tak Mampu Juara

Mungkin judul tulisan ini akan membuat anda bingung dan bertanya-tanya. Bagaimana bisa Arema memainkan lima pemain asing disaat regulasi liga hanya membolehkan 3 pemain asing berada dilapangan?

Sebenarnya secara legal Arema Cronus hanya memiliki tiga pemain asing yaitu Alberto Goncalves, Gustavo Lopez dan Thierry Gathuessi. Sementara dua lagi adalah pemain asing yang sudah dinaturalisasi Cristian Gonzales dan Victor Igbonefo.

Walaupun dua pemain terakhir telah dinaturalisasi tetap saja mereka bisa dipandang sebagai pemain asing karena memang asalnya dari luar dengan skill yang setara dengan pemain asing papan atas di Indonesia. Kasarnya, Arema bermain dengan lima pemain asing.

Dengan skuad seperti ini ternyata masih belum mampu mengantar Arema Cronus ketangga juara. Padahal sepanjang liga mereka nyaris tak terkalahkan. Hanya klub-klub tertentu saja yang bisa mengalahkan Arema. Klub yang "beruntung" itu adalah Semen Padang, Persib, dan Persipura.

Dengan skuad yang ada Arema sudah sangat solid terlebih untuk musim depan dimana setiap klub hanya boleh memakai jasa 3 pemain asing, berbeda dari musim sebelumnya yang agak longgar dengan mengizinkan 4 pemain asing dan boleh dimainkan 3 dalam satu pertandingan.

Dengan skuad saat ini, Regulasi ini sangat menguntungkan bagi Arema. Namun Arema justru melepas pemain asing yang menjadi tulang punggung mereka selama ini. Tiga pemain asing semua dilepas.

Isu gaji tak terbayar tentu bukan sebuah rahasia lagi. Menjelang partai semifinal menghadapi Persib, Arema dikabarka baru saja membayar tunggakan gaji mereka agar pemain semangat menghadapi pertandingan.

Dibalik kokohnya Arema Crnous ternyata mereka rapuh. Mereka sesungguhnya tak sanggup menggaji "lima" pemain asing sekaligus. Bahkan Arema sampai menunggak.

Sebenarnya bukan itu saja ketidak nyamanan yang ada di klub kebanggaan Aremania ini. Isu membayar wasit menghantui Arema disetiap pertandingan, karena fakta bagi banyak orang mengarah kesana.

Belum lagi bayang-bayang isu legalitas dimana saat ini Arema Cronus masih dianggap klub gaib yang mendompleng nama Arema Indonesia. Bermodal badan hukum yang tidak memiliki lisensi dan slot diliga, Arema menjelma menjadi klub tangguh.

Tidak hanya itu, di Arema ternyata tidak ada pelatih kepala. Pelatih kepala sesungguhnya duduk manis di bench, sementara CEO-nya betingkah seperti pelatih yang menentukan semua strategi tim.

Inilah tiga masalah yang membuat Arema gagal juara, lemah dalam legalitas, tudingan match-fixing, dan organisasi yang lemah. Tidak ada gunanya dihuni pemain hebat jika internal klub tidak memberi kenyamanan. Dibalik kemegahan skuad, ternyata Arema itu rapuh.

Tanpa diuntungkan sejumlah keputusan wasit, Arema tidak berkutik, Semen Padang dan Persib sudah membuktikan ini. Jika wasit fair Arema bukan apa-apa.
Dari Redaksi 1771561816901185566

Beranda item